Gunung Tandikat – Dalam dialek bahasa minang dikenal dengan nama gunung Tandikek. Merupakan salah satu dari tiga gunung sumatera barat yang dikenal dengan sebutan puncak tri arga yang artinya penyangga langit Minangkabau (gunung singgalang, gunung marapi, gunung tandikat). Gunung yang bertipe stratovolcano dan ditutupi hutan hujan tropis ini memiliki ketinggian sekitar 2438 mdpl yang merupakan gunung terendah dari gugusan puncak tri arga.
Tanggal 05 mei 2016.
Perjalanan dilakukan dengan motor melalui permandian lubuk mata kucing padang panjang menuju desa Singgalang Ganting. Sesampai didesa Ganting dekat pos pendakian kami membayar uang registrasi sebesar Rp.7.000,- perorang yang di kelola oleh pemuda dan wali nagari setempat, dan kami menitipkan motor di kedai anak tertua pak Lelo alm serta membayar uang sebesar Rp.10.000,- permotor.

Tanggal 05 mei 2016.
Perjalanan dilakukan dengan motor melalui permandian lubuk mata kucing padang panjang menuju desa Singgalang Ganting. Sesampai didesa Ganting dekat pos pendakian kami membayar uang registrasi sebesar Rp.7.000,- perorang yang di kelola oleh pemuda dan wali nagari setempat, dan kami menitipkan motor di kedai anak tertua pak Lelo alm serta membayar uang sebesar Rp.10.000,- permotor.
Pos pendakian gunung Tandikat
Kedai tempat penitipan motor
Disamping kedai terdapat jalur irigasi air, hari sudah menunjukkan pukul 15.30 sore kamipun mulai berjalan menyusuri jalan irigasi untuk menuju sungai tempat pintu rimba.Setelah berjalan sekitar 45 menit kamipun sampai di sungai pertama
Sungai dekat pintu rimba
Pendakian dilanjutkan menuju ke shelter mata air, hari sudah menujukkan pukul 5 sore dan cuaca sudah memulai gerimis dan hujan sedang, melalui daerah kawasan pacet serta gelap yang menghampiri membuatku kedinginan dan hasilnya 4 gigitan pacet membuat tanda berdarah dikakiku. Metta sempat menangis karena baru sekali ini berkenalan dengan pacet ditambah gelap dan dingin, lapar serta mengantuk lagi, lengkap sudah penderitaanku rasanya. Untunglah setelah pendakian yang melelahkan ini akhirnya sampailah kami di shelter dekat mata air ... ah nikmatnya bisa beristirahat dalam tenda kini.
bersama kak Ela di lokasi kawasan pacet
4 tanda mata gigitan pacet
shelter mata air
asyiknya istirahat di dalam tenda
Tanggal 06 mei 2016
Setelah selesai istirahat di shelter, kamipun melanjutkan perjalanan menuju puncak Tandikat, melewati 2 buah aliran mata air dan pendakian yang cukup melelahkan. Hutan menuju puncak cukup rapat dan banyak terdapat batang kayu roboh di sepanjang rute pendakian. Pagi ini Metta bersemangat sekali menuju puncak dan pacetnya sudah agak jarang di tambah cuaca cerah. Perjalanan dari shelter ke puncak memakan waktu sekitar 2,5 jam di tambah banyak bonus PHP, tapi semuanya sangat asyik Metta jalani.
istirahat sejenak
batu surya
Setelah melewati hutan yang rapat dan alami ini sampailah kami di tempat terbuka puncak dekat kawah syukurlah akhirnya perjuanganku tidak sia sia.
Puncak Tandikat 2438 mdpl
Setelah istirahat sejenak, kamipun berjalan menyusuri pinggiran jurang mencari jalan menuju jalan turun ke dalam kawah. Inilah photo pemandangan turun ke dalam kawah Tandikat
Dimana bumi kupijak disanalah langit kujunjung
Terima kasih papa Herwin telah mengajak Metta di tempat yang indah ini
Terima kasih om Taufik Hidayat alias om gelitik atas bantuannya dan bermain dengan Metta
Terima kasih om Arman atas kebersamaan ini
lubang belerang masih aktif
gua belerang
masak dalam tenda
edelweis Tandikat
main di pasir putih kawah
makan bersama
bersama papa di pasir putih kawah tandikat
bersama sahabat di pasir putih kawah
Tanggal 07 mei 2016
Tiada pesta yang tiada berakhir akhirnya kami kembali pulang ke bawah dengan membawa sejuta kenangan yang indah. Terima kasih semuanya yang telah menyertai perjalanan Metta ke gunung Tandikat ini, semoga kita bisa bertemu lagi ... Jangan ada pacet di antara Metta bisa kencang larinya.
Bagiku hidup ini hanya sekali, maka warnailah hidupmu ini dengan menikmati segala keindahan ciptaanNYA dengan hal yang positif. Alam banyak mengajarkanku untuk dapat menjadi manusia seutuhnya dan pribadi yang tangguh melalui proses yang panjang. Perjalanan dapat menambah sahabat serta pengalaman menemukan dan belajar hal - hal yang baru daripada berdiam diri di rumah. Keluar dari zona nyamanku dan serahkan diri kepada Tuhan, maka biarkanlah alam yang akan bekerja membentuk jati diriku. Aku mencintai penciptaku, kehidupan dan segala ciptaanNYA, dan aku merasa seperti dilahirkan kembali menjadi manusia yang baru ... untuk inilah aku mendaki ...

















